|
 | Hallo.. | Aug 22, 2005 |
Selamat datang..salam.. Silakan kalau mau lihat-lihat multiply saya..segala macam komentar, kritik, saran, dll. akan saya terima dengan senang hati..Makasih atas kunjungannya.. | Start: | Nov 19, '05 12:00p | | End: | Nov 19, '05 2:00p |
65 TAHUN INDONESIA KITA
65 TAHUN INDONESIA
SEBAGAI NEGARA KITA 17 AGUSTUS .....................................
1. AYO REPUBLIK INDONESIA 2. TURUNLAH BENDERAKU 3. AKU SEDIA SUDAH DI NEGARA INDONESIA 4. INDONESIA YANG ESA 5. KITA BELA NEGARA KITA 6. AYO BERSATULAH NEGARAKU 7. NEGARA YANG KUCINTA
Ditulis oleh : Cinta, 28 Agustus 2010 di KBRI-Wina
Bunda (1)
Bunda, Nasehatmu tidak ada di hatimu dan otakmu, Selamat siang otak, Apakah kamu masih berpikir?(2) Apakah jiwamu hilang?(3) Iya, keluar bersedih-sedih, Mataku serius dan sepintar berhitung,(4) Kenapa eh kenapa bunda bisa begitu, Karena eh karena bunda (5) penyerdas, Terimakasih kamu baik (6) _____________________________________________________________
(1). Orang miskin menasehati orang kaya : saling membantu (2). Otak cerdas menginspirasikan bunda dan mengatakan : aku cerdas (3). Menangis keras dan disenangkan oleh Allah : punya jiwa (4). Aku lebih cerdas daripada otak : pintar (5). cerdas sekali ; kamu dapat nilai 100! (6). Aku beri hadiah untukmu : Terimakasih
Cinta seharian : 29.08.10 Bunda senyum : 29.08.2010
|  | Setelah cuaca yang kurang bagus, mendung dan hujan beberapa hari terakhir, alhamdulillah hari Minggu 8 Agustus kemarin cuaca bagus dan cukup cerah. Jadi kita bisa grillen bersama teman-teman Austria di kebunnya Stefan di Neubau. |
Percakapan saya dan Cinta (4 tahun 8 bulan) tadi sore sambil tiduran di kasur. Saya : "Bunda sayaaaaang deh sama Cinta. Cinta sayang bunda nggak?" Cinta : "Hmm..kadang sayang, kadang nggak sayang.." Saya : "Hahaha..emang kenapa ada sayang dan ada nggak sayang?" Cinta : "Iya, Cinta sayang bunda kalau bunda ada di Austria dan bunda nggak kerja.." Saya : "Oh gitu..trus, kalo Cinta kadang nggak sayang bunda kalau apa? Cinta : "Cinta nggak sayang bunda kalau bunda sibuk ngurusin urusan sendiri, atau kalau Cinta nggak tahu bunda sayang Cinta atau nggak.." Hari ini saya dikagetkan dengan berita tentang siswi SMA yang membunuh dan membuang bayinya ke toilet sekolah. Dan, konon, siswi tersebut melahirkan bayinya di toilet rumahnya sendirian (begitu berita yang saya baca sampai detik ini). SENDIRIAN..ngebayanginnya aja saya udah merinding. Gimana rasanya melahirkan sendirian di toilet? Merasakan kontraksi yang luar biasa sakitnya, hanya seorang diri.. Ada hal yang menjadi pertanyaan besar buat saya. Gimana sih hubungan anak tersebut dengan kedua orangtuanya? Bagaimana mungkin proses kehamilan yang begitu panjangnya, memakan waktu kurang lebih 9 bulan tanpa ada satu pun keluarga yang mengetahuinya? Sedangkan wanita hamil itu buat saya nyata-nyata jelas bedanya dengan wanita yang ngga hamil. Mereka mengalami perubahan bentuk tubuh, payudara, perut, pinggul, dan lain-lain yang seharusnya diketahui oleh orang di sekitarnya, keluarganya, terutama ibunya. Apakah anak itu yang terlalu pandai menutupi keadaan, atau memang aslinya juga gemuk sehingga perubahan fisik jadi "tak tampak", atau anak dan orangtua/ibu yang hubungannya tidak dekat, bahkan terlalu jauh dan tidak terbangun komunikasi diantara mereka dan perubahan fisik pun tidak terdeteksi. Buat saya itu menyedihkan sekali. Saya membayangkan bagaimana perasaan anak itu, waktu tahu bahwa dirinya hamil dan menanggung semua beban itu sendirian saja. Teramat berat untuk anak remaja berusia 15 tahun. Pasti kehamilan itu sama sekali tidak dia inginkan, apapun latar belakangnya. Belum lagi menjalani masa-masa kehamilan yang seringkali tidak mudah, perubahan fisik, juga emosi. Betapa beratnya beban yang harus dia tanggung untuk menutupi kondisinya sekaligus menanggung rasa malu, bersalah juga penyesalan. Semoga Allah SWT mengampuninya.. Bagi saya, hubungan antara orangtua dan anak benar-benar harus dijaga. Saya selalu membiasakan agar semua orang di keluarga saya bisa terbuka satu sama lain. Meskipun putri saya baru berumur 4 tahun 8 bulan, saya selalu mengajaknya bicara dari hati ke hati, tentang apa pun. Saya selalu memintanya untuk menceritakan apa yang dialaminya hari itu, kejadian di sekolah, teman-temannya, guru-gurunya, perasaannya, kegembiraannya juga kesedihannya. Saya ingin sampai dewasa nanti dia terbiasa untuk terbuka, tanpa ketakutan untuk bercerita. Prinsip saya, apapun itu, baik atau buruk, orangtua haruslah jadi orang pertama yang mengetahuinya. Semoga kita bisa menjadikan diri kita tidak hanya sebagai orangtua, juga sebagai guru, dokter, teman, sahabat, yang bisa menjadi tempat anak-anak kita bercerita, berkeluh kesah, meminta pendapat, nasihat, dan pengetahuan tentang apa pun. Anak adalah amanah yang harus kita jaga sebaik-baiknya. Karena Cinta minta dikasih pertanyaan, ini bunda kasih.. 1. Kenapa Cinta suka main di park? 2. Kenapa Cinta suka perkalian? 3. Kenapa Cinta suka main catur? 4. Kenapa Cinta suka angka? 5. Kenapa Cinta ingin punya adik? Silahkan Cinta jawab pertanyaannya ya.. Senang sekaligus gamang. Begitulah perasaan saya waktu mas Wikan memberi tahu bahwa dia akan berangkat ke Wina, Austria akhir November 2008 dua tahun yang lalu. Senang? Pasti, sebagai istri yang selalu mendukung cita-citanya, saya pasti ikut senang atas apapun yang membuat suami senang. Gamang? Hmm..kenapa perasaan ini selalu datang tanpa diundang pada saat-saat seperti ini. Ya, ini kali kedua saya merasakan dilema antara tinggal di Indonesia dengan pergi mengikuti suamiku sekolah. Rasanya berat banget saat saya harus meninggalkan pekerjaan yang mulai saya cintai, sementara keinginan saya, Cinta, dan mas Wikan buat "susah-senang-bersama" juga begitu besar. Juga Eropa dengan segala kemapanan dan kenyamannya selalu memanggil saya untuk kembali. Gimana ngga berat, saya harus meninggalkan praktek dan pasien-pasien saya. Pekerjaan yang melelahkan sekaligus memberi kepuasan tersendiri buat saya. Pekerjaan yang kurindukan, setelah hampir 3 tahun saya tinggalkan, dan sekarang harus saya tinggalkan lagi. Gelar dokter gigi yang saya dapatkan dengan penuh perjuangan. Membayangkan masa-masa kuliah dan ko-ass yang berat kadang membuat saya salut pada diri sendiri, bisa melewati semuanya dengan baik. Belum lagi biaya yang besar yang sudah dikeluarkan kedua orangtua buat membiayai saya menjadi seorang dokter gigi, sementara mereka bukanlah orang kaya. Seribu alasan buat saya untuk meyakinkan diri bahwa inilah profesi yang saya pilih, inilah jalan hidup yang harus saya perjuangkan. Tetapi saya sadar, bahwa pada suatu saat, hidup tidak selamanya lurus-lurus saja. Terutama setelah menikah, kehidupan akan berbeda, prioritas akan berubah. Menunda sementara cita-cita untuk sesuatu yang lebih baik, kebersamaan keluarga, adalah sama baiknya. Kuncinya adalah keikhlasan dalam menjalaninya. Insya Allah saya ikhlas meninggalkan pekerjaanku untuk sementara, selama menemani suamiku sekolah di sini. Ikhlas menjadi "ibu rumah tangga" yang disibukkan dengan urusan domestik, masak, ngurus anak, dsb. Dimana pun berada, saya hanya ingin berbuat yang terbaik. Teringat pesan seorang teman, saat menjemput saya di bandara Frankfurt 5 tahun yang lalu, bahwa suami istri itu bagaikan sepasang kaki, kalau berjalan, satu kaki berada di depan, sementara kaki lainnya berada di belakang.. Dua hari yang lalu, Senin 19 Mei 2008, sore hari seperti biasa saya berangkat kerja naik angkot 05 jurusan Cicaheum-Cibaduyut. Saya naik dari perempatan Soekarno-Hatta –Leuwipanjang. Waktu itu saya naik angkot yang lagi ngetem. Saya masuk dan duduk di bangku sebelah kiri yang muat untuk 5 orang. Saya duduk di ujung dekat pintu. Setelah saya duduk, masuk perempuan, masih muda, sekitar 30 tahunan, duduk di depan saya. Kemudian masuk 4 orang laki-laki muda (awalnya saya nggak tahu mereka saling mengenal atau tidak). Dua orang membawa tas ransel, dua orang tidak. Dua orang duduk di sebelah kiri perempuan tadi, satu orang duduk di sebelah kanan saya (terpisah oleh satu penumpang lain), dan satu orang duduk di bangku tambahan membelakangi sopir. Begitu angkot mulai jalan, mba di depan saya membuka tasnya. Saya sempat perhatikan, mba ini membuka tasnya terlalu lebar dan terbuka, sehingga saya (dan mungkin orang lain terutama di sebelahnya) pun bisa melihat isi tasnya. Ngga jelas apa yang diambil dari tasnya, mungkin uang buat ongkos. Lalu saya melihat si mba menutup tasnya kembali. Saat itu juga laki-laki yang duduk di bangku tambahan pindah tempat duduk ke sebelah saya. Waktu itu saya bingung dan dengan memasang tampang jutek saya dengan sengaja menghitung jumlah penumpang di bangku itu. “Disini sempit mas, sudah 5 orang” saya bilang ke dia. Tapi si masnya cuek bebek pura-pura ngga denger. Akhirnya saya diemin aja, sambil memegang erat tas saya karena saat itu feeling saya udah ngga enak. Ni orang ngapain sih duduk di sini, udah tahu penuh, malah pindah ke sini. Beberapa saat kemudian, si mas itu duduknya pindah ke lantai angkot dan meregangkan kakinya ke depan, seperti orang yang kram mendadak. Sambil mengaduh kesakitan dia terus meregangkan kakinya ke depan sambil tangannya memegang lutut dan paha mba di depan saya. Semua penumpang kaget, terutama saya (sebelah si mas) dan si mba (depan saya). Saya berusaha menjauhkan badan saya sambil memegang erat tas saya. Sementara saya juga bingung ini beneran sakit atau pura-pura. Saya tanya ”Bapak sakit? kram kakinya? kalau sakit mendingan turun aja disini”. Terus saya bilang ke sopirnya, ”Stop..stop Pak, berhenti, ada orang sakit”. Entah suara saya kedengeran atau ngga, yang pasti angkot melaju terus tanpa peduli penumpang di belakang panik. Si mba depan saya lebih panik lagi, karena tangan si mas terus berusaha megang paha si mba dengan tampang kesakitan, dan si mba berusaha untuk menyingkirkan tangan si mas dari pahanya. Akhirnya ngga jauh dari LP Banceuy si mas yang (pura-pura) kram tadi turun. Saya lihat kok dia bisa turun dengan normal, sama sekali ngga ada tanda-tanda abis kram. Saat itulah saya langsung berfikir dia pasti copet. Spontan saya periksa tas saya, dan alhamdulillah saya mendapati dompet dan hp saya masih ada di tempatnya. Saya langsung ambil uang 5000 dan saya pegang, jaga-jaga kalau terjadi sesuatu saya mau langsung turun padahal perjalanan saya masih panjang. Pada saat yang bersamaan, si mba di depan saya juga periksa tasnya. Langsung mukanya berubah panik. Dia bolak-balik, periksa tiap bagian dari tasnya. Kemudian dengan wajah mau nangis dia bilang perlahan”Hp saya ilang”. ”Apa yang hilang mba ?” kata mas yang duduk sebelah kirinya. ”Hp” jawab si mba pendek dengan mata berkaca-kaca. ”Wah, mungkin orang yang barusan turun yang ngambil” kata si mas. ”Iya mba, mungkin orang yang tadi yang ambil” kata orang di sebelah si mas. ”Berapa nomornya ? coba mba hubungi aja, ntar kan kalau masih ada di sini pasti bunyi” kata si mas lagi dengan nada sok peduli. ”Nih, pake hp saya aja, gapapa kok” si mas menambahkan. Kemudian hpnya dipanggil, dan ngga terdengar ada hp yang bunyi. ”Ya..ngga ada, mungkin memang orang tadi yang ambil, lagian hp saya pake getar, kalaupun masih ada di sini pasti ngga kedengeran” kata si mba kecewa. ”Tuh, bener kan mba..ngga ada bunyinya disini, pasti yang tadi yang ambil. Mba lebih baik turun aja disini, mumpung belum jauh, siapa tahu bisa kesusul, mungkin barangnya masih ada.” kata si mas memprovokatori si mba supaya turun saat itu. ”Duh..saya mau hubungi suami saya..” si mba berharap ada dermawan yang mau meminjamkan hpnya. Saya yang duduk di depan dia ngga berani mengeluarkan hp saya karena saya amat sangat yakin masih ada komplotan copet di angkot yang belum turun. ”Nih, pake hp saya aja mba” kata si mas sok baik. ”Nanti saya bayar deh pulsanya” kata si mba. ”O..ga usah, kalau mba mau bayar, saya ngga jadi minjemin deh” kata si mas sok dermawan. ”Makasih ya mas” kata si mba sambil menelepon suaminya. Akhirnya si mba turun di daerah Pasirluyu. Beberapa saat setelah si mba turun, tiga orang laki-laki yang saya curigai dari awal turun bersamaan di Soekarno-Hatta setelah Mutiara Kitchen. Setelah itu sopirnya langsung bilang “Kurang ajar, yang tadi copet semua…si ibu ilang hp ya” ”Bapak gimana, udah tahu copet kok dibiarin naik sih?” kata saya sewot. ”Saya takut bu, mereka komplotan, saya bisa kena kalau saya macem-macem. Mana sepanjang jalan ini ngga ada kantor atau pos polisi lagi. Kalau ada kantor polisi sih, saya bisa aja belokin angkot saya ke kantor polisi. Tapi susah juga, mungkin barang buktinya ngga ada. Udah dibawa sama yang turun pertama di LP Banceuy tadi. Mereka orang-orang P***m***g” jawab pak sopir panjang lebar. ”Nanti mereka naik angkot berikutnya mencari korban yang lain” tambah pak sopir. Kita yang masih ada di dalam angkot langsung ngebahas pencopetan tadi. Dari awal ada yang kram semua udah pada curiga dan berusaha waspada. Kasihan, si mba jadi korban. Saya juga yakin bahwa si mba juga curiga dan tahu, tapi dia udah terlanjur jadi korban dan ngga bisa berbuat apa-apa. Mau nuduh, barang buktinya ngga ada. Dan semua penumpang, sama seperti saya, merasa takut dan lagi-lagi ngga bisa berbuat apa-apa. Apalagi sekarang ini nyawa semakin murah harganya. Apapun, nyawa bisa jadi taruhan. Kalau copetnya sendiri mungkin bisa lebih berani, tapi kalo rame-rame....Hiii... Ada beberapa hal yang membuat saya curiga sejak awal dan pada akhirnya yakin bahwa mereka copet berkelompok. - Saya melihat ada beberapa (lebih dari satu) laki-laki berwajah “seberang” yang naik hampir bersamaan. Dan ada yang membawa ransel besar yang terlihat kosong tak berisi.
- Saya sempat mendengar dua orang laki-laki yang duduk sebelah korban berbicara dalam bahasa yang tidak saya mengerti dan logat yang tidak begitu saya kenal. Yang pasti saya tahu bahwa mereka bicara dalam bahasa dan logat S*****a, tetapi bukan B****, bukan P*****, dan bukan A***.
- Laki-laki sebelah saya yang memaksa pindah duduk ke sebelah saya, padahal sudah penuh, kemudian tiba-tiba kram sambil megang-megang paha korban. Cuma trik pengalihan perhatian korban, sehingga pada saat korban sibuk menyingkirkan tangannya, temannya yang duduk sebelah korban bisa dengan leluasa mengambil barang dari tas korban.
- Laki-laki yang duduk sebelah korban berbuat dan berbicara terlalu berlebihan, sok menasihati, sok menolong.
Sekali lagi, tanpa bermaksud SARA, tapi memang berdasarkan sharing pengalaman orang-orang baik secara langsung maupun lewat surat pembaca di koran, mereka (pencopet) rata-rata memang orang S******a, L******g atau P***m***g. Caranya macem-macem, ada yang pura-pura muntah, pura-pura ngajak ngobrol, pura-pura kram, dsb. Jadi, kalau naik angkot di Bandung kudu ekstra hati-hati. Jangan sampai kita jadi korban orang-orang yang ngga mau berusaha dengan cara yang halal. Pokoknya kalau di angkot ada orang yang gerak-geriknya mencurigakan, atau kalo feeling kita udah ngga enak, udah deh, mendingan turun aja langsung. Mending kita menyelamatkan diri sendiri aja dulu. Soalnya kalau kita udah jadi korban, belum tentu ada orang lain yang mau nolongin kita. Jaman sekarang ini, pertolongan yang tulus itu amat sangat mahal harganya dan susah didapat. Sopir pun biasanya ngga mau terlibat, apalagi menyelamatkan korban. Kejadiannya pun berlangsung cepat. Cuma dalam hitungan menit barang kita udah berpindah ke tangan orang lain. Satu lagi, kalau di angkot, jangan membuka tas terlalu lebar. Terus, kalau bisa, uang buat ongkos dipisahin aja, jangan taro di dompet dan jangan pernah bawa uang tunai banyak-banyak. Hp mendingan di-silent aja, dan jangan terima telefon di angkot. Toh, bukan emergency kan ? soalnya risk and benefitnya ngga sebanding. Waspadalah..waspadalah.. |  | Hari Sabtu, 18 Agustus 2007, FORMID (forum masyarakat Indonesia di Dresden) ngadain acara kumpul-kumpul dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI. Bertempat di kediaman ibu Tri. Acaranya seru banget. Ada lomba masak ibu-ibu vs bapak-bapak, lomba merias wajah bapak-bapak, lomba makan nasi goreng, balap kerupuk, balap karung, masukin pensil ke botol, kelereng buat anak-anak. Banyak lomba yang pasti banyak hadiah dong. Dan yang pasti..banyak makanan.. |
 Mother, how are you today? Here is a note from your daughter. With me everything is ok. Mother, how are you today? Mother, don't worry, I'm fine. Promise to see you this summer. This time there will be no delay. Mother, how are you today? I found the man of my dreams. Next time you will get to know him. Many things happened while I was away. Mother, how are you today? Dresden, 24 Juni 2007 'Mah..i miss you so much.. |  | 17 Juni 2007 |
|  | Sejak kenal pensil warna dan kertas, umur 12 bulan, kemana-mana Cinta harus bawa kertas dan pensil warna/spidol. Di rumah temen, di Strassenbahn, di kereta, di bus..pokoknya kemana pun dan dimana pun berada, senjatanya, kertas dan pensil harus selalu ada di tas bundanya. Satu lagi, buku cerita bergambar. Kalo senjatanya ada, bundanya bisa tenang deh.
Lucunya, Cinta selalu mengkaitkan gambarnya dengan lagu. Jadi setiap gambar yang dia atau bundanya buat harus ada theme song-nya..Favoritnya ? gambar bunga diiringi lagu Edelweiss (soundtracknya the Sound of Music).
Sekarang Cinta udah 18 bulan, hobi corat-coretnya makin menjadi-jadi. Dari bangun tidur sampe dia tidur lagi..tetep yang dicari kertas dan teman-temannya.
Saya perhatikan dari hari ke hari terlihat banyak kemajuan dari corat-coretnya Cinta. Sekarang coretannya udah mulai bertema, nggak sekedar coretan acak-acakan tanpa arti. Garis lurus vertikal, horizontal, lingkaran, titik, bentuk menyerupai rumput, dll. sudah bisa dia buat dengan cukup baik. Dan dia juga sudah tahu apa yang dia gambar. Mewarnai pun sudah lebih baik, meskipun masih keluar garis, tapi sudah lebih halus dan lebih rapi.
Ada sebagian hasil corat-coretnya Cinta disini : http://serenadacinta.multiply.com/photos/album/16 http://serenadacinta.multiply.com/photos/album/21 Silakan kalo mau lihat.. |
Hari Sabtu kemarin saya belanja di Saigon buat beli bahan makanan yang nggak ada di Supermarket Jerman. Buah dan sayuran juga sering saya beli di Saigon, soalnya seringkali harganya lebih murah daripada di Supermarket. Tadinya saya nggak niat beli pindekas (pindakaas, selai kacang, erdnuss creme, peanut butter) di Saigon karena biasanya saya beli di Konsum deket rumah. Karena sekalian belanja, kebetulan pas nemu ada pindekas di salah satu rak, dan kebetulanjuga waktu itu terlintas buat makan lotek atau gado-gado atau apa pun yang berbumbu kacang favorit saya, jadilah saya ambil juga pindekas itu dari raknya, tanpa melihat tanggal kadaluarsanya. Biasanya hal yang pertama saya lihat kalau belanja itu adalah kandungan zat, nilai gizi, lalu tanggal kadaluarsa. Nah, waktu itu saya langsung maen ambil aja, tanpa melihat tanggal kadaluarsa yang jelas-jelas ada di bagian atas tutup botol kacanya. Waktu itu belanjanya agak rusuh juga sih, mana sambil gendong Cinta yang udah makin berat dan lagi ngantuk plus cuaca yang panas..lengkap deh pokonya.
Setelah itu saya nggak langsung pulang ke rumah karena ada acara pengajian bulanan di tempat teman di Hochschulstrasse 48. Malemnya, baru deh saya mulai siap-siap buat makan malem. Rebus-rebus sayuran, goreng tahu..terakhir..bikin bumbu kacangnya. Mulanya saya pake pindekas sisa sebelumnya yang saya beli di Konsum. Setelah saya masak dan ditambah bumbunya, kayanya nggak cukup deh..jadilah saya buka pindekas yang saya beli di Saigon siangnya. Langsung saya buka, ambil dengan sendok dan digabung di panci kecil dengan pindekas sebelumnya. Tapi..kok saya mencium bau aneh..apek gitu, bau yang nggak biasa. Langsung saya liat botolnya, saya cek tanggal kadaluarsanya eeehh..ternyata tertulis disana 27.07.06. Wooow..pantesan pindekasnya apek !! Memang udah kadaluarsa..setahun yang lalu lagi..Tadinya saya mau makan aja, saking pengennya makan lotek :-). Untunglah suami saya melarang dan nyuruh saya buang aja bumbu yang udah jadi di panci dan sisa pindekas di botolnya. Kalau saya keukeuh makan itu pindekas, udah sakit perut kali..Suami saya ngingetin buat nggak ambil resiko dengan makanan kadaluarsa, apalagi udah setahun yang lalu dan berbau apek, jangan gara-gara 1,25 EUR ngorbanin kesehatan :-). Mana lagi menyusui lagi.. Ok deh, thanks honey..:-)
Memang sih di toko Asia itu sering dijual barang-barang kadaluarsa, tapi biasanya dalam kondisi didiskon dan ditaro di tempat terpisah, sehingga orang yang pengen beli yang lebih murah dengan sadar membeli barang kadaluarsa. Tapi kalau kasusnya kaya gini, berarti dia nipu konsumen dong, atau paling tidak memanfaatkan kelalaian konsumen, terlepas dari kelalaian konsumen itu sendiri untuk mengeceknya. Tapi kan menjual barang kadaluarsa itu sendiri udah nggak bener.
Kasus seperti ini kayanya udah sering terjadi. Sebelumnya temen saya, Tuntas, juga pernah cerita beli Sambal Bangkok, yang ternyata udah kadaluarsa..duuhh..
Pengennya ngaduin ke Lembaga Konsumennya Jerman, tapi nggak tahu kemana. Selain itu kebayang repotnya kalau setelah pengaduan kudu bolak-balik diminta keterangan. Ya sudahlah, saya ambil hikmahnya aja, buat lebih berhati-hati kalau belanja dimana pun, terutama di toko Asia.
|  | Tanggal 25 April 2007 yang lalu Mba Ida (mamanya Tobias) yang tinggal di Radeberg ngundang ke rumahnya ngadain mother date. Ya..ngobrol-ngobrol plus makan-makan..kita (saya+Cinta, Novi, Mba Titin+Vanessa, dan Cisca) berangkat bareng-bareng dari Dresden naik Bus 305 ke Radeberg. Kota kecil yang sepi.. Thanks to mba Ida atas undangannya dan makanannya yang enak + banyak ;-)
Sayang, ngga ada foto pemandangannya..maklum bawa anak ngga bawa bapa'nya..ngga sempet moto-moto banyak.. |
Baca keterangan selengkapnya di sini : http://www.itjen.depkes.go.id/index.php?option=news&task=viewarticle&sid=2562Di Permenkes sebelumnya : Permenkes No.1419/Menkes/X/2005, pada bab II tentang izin praktek, mensyaratkan : 1. fotokopi surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi yang diterbitkan oleh Konsul Kedokteran Indonesia yang amsih berlaku dan telah dilegalisir oleh pejabat yang berwenang ; 2. surat pernyataan mempunyai tempat praktek ; 3. surat rekomendasi dari organisasi profesi di wilayah tempat akan praktek ; 4. fotokopi surat keputusan penempatan dalam rangka masa bakti atau surat bukti telah selesai menjalankan masa bakti atau surat keterangan menunda masa bakti yang dilegalisir oleh pejabat yang berwenang. Selengkapnya ada di sini : http://www.tenaga-kesehatan.or.id/pdf/peraturan/26.pdf.
Di Permenkes yang baru : Permenkes 512/Menkes/Per/IV/2007, pada bab II tentang Izin Praktek, mensyaratkan : 1. fotokopi surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi yang diterbitkan atau dilegalisir asli oleh konsil Kedokteran Indonesia, yang masih berlaku ; 2. surat pernyataan mempunyai tempat praktik, atau surat pernyataan dari sarana pelayanan kesehatan sebagai tempat praktiknya ; 3. surat rekomendasi dari organisasi profesi, sesuai tempat praktik ; 4. pas foto ukuran 4 x 6 sebanyak 3 (tiga) lembar dan 3 x 4 sebanyak 2 (dua) lembar.
Selengkapnya bisa dibaca di sini : http://www.itjen.depkes.go.id/downloads/Permenkes/permenkes%20512.pdf
Kabar gembira buat teman-teman dokter atau dokter gigi yang belum PTT. Di sisi lain, kabar kurang menyenangkan buat masyarakat di daerah terpencil. Semoga masih ada (banyak) dokter-dokter atau dokter gigi yang mau mengabdikan dirinya di daerah-daerah terpencil, dengan sukarela.
Nggak tahu kenapa dari kemaren saya pengen banget makan muffin, sampe kebayang-bayang gitu..padahal..apa sih istimewanya muffin ? selama ini muffin bukan makanan favorit saya. Saya nggak pernah beli atau sengaja bikin. Paling-paling makan kalau ada yang ngasih. Buat saya muffin itu nggak lebih dari kue penambah berat badan  , selain itu rasanya terlalu manis menurut lidah saya. Eh..tahu-tahu..pulang belajar di perpus, suami saya bawain sebungkus muffin, isinya 4 buah muffin, 2 muffin coklat dan 2 vanilla. Padahal saya cuma bilang iseng aja, niat nggak niat.. "pengen makan muffin". Wah, ternyata suami saya cepat tanggap. Seneng banget saya..langsung deh saya makan saat itu juga..abis 2 biji..lupa sama program diet..waduh.. Gapapa lah, asal jangan tiap hari..(batin saya menghibur diri).
Buat saya, paling menyedihkan kalau lihat anak sakit. Apalagi anak kecil yang belum bisa ngomong sakitnya gimana..maunya diapain..maunya makan apa..duuhh..
Cinta sudah tujuh hari ini sakit batuk-pilek. Sakitnya dimulai sepulang dari daerah Niedersedlitz naik S-Bahn, berikut hujan dan cuaca yang nggak mendukung hari Kamis. Besoknya, hari Jumat batuk-batuk. Entahlah dapet virus dari mana.
Kasian banget liatnya, nggak pernah nyenyak tidur. Kebangun terus gara-gara batuk. Kadang sampai muntah berusaha ngeluarin dahaknya. Sebentar-sebentar kebangun..Hari pertama sampai ketiga hidungnya meler, bersin-bersin terus..Biasanya kalau sakit batuk-pilek nggak pernah lebih dari tujuh hari. Tapi ini udah hari ketujuh kok kayanya batuknya masih bandel aja. Sejauh ini masih home treatment.
Seminggu ini makannya jadi kacau. Mungkin karena sakit jadi ngga enak makan. Udah segala macem makanan dikasih, sup krim jagung, sup ayam, sayur bayam, sayur kacang merah, segala macem deh pokoknya..tapi yang dimakan cuma beberapa suap. Alhamdulillah dia masih mau makan roti tawar, buah, sayuran rebus (walaupun sedikit), minum susu Vollmilch hangat dan air putih. "No..no..no.." itu jawabannya setiap kali saya tawari makan. Maunya nenen terus..Saya yang tadinya berniat sedikit demi sedikit mulai mengurangi ASI-nya jadi luluh deh, nggak tega karena kondisinya yang sepertinya belum memungkinkan (atau sayanya yang kayanya juga belum siap mental).
Tapi alhamdulillah walaupun lagi sakit dia masih lincah, maen, jalan-jalan kesana kemari. Hari pertama-kedua maunya digendong terus, sampai tangan pegel-pegel. Sekarang udah ngga minta gendong lagi. Udah nggak meler lagi, tapi batuknya masih bandel, dahaknya masih ada..Kemaren waktu cuaca bagus saya ajak dia jalan-jalan, biar menghirup udara segar sekalian belanja, seneng sekali dia..di jalan dia nyanyi-nyanyi terus walaupun sesekali diselingi batuk.
Cinta sayang, cepet sembuh dooong..kalau udah sembuh kita jalan-jalan beli maenan ya..
|  | Buka laci, ambil kerudung biru, pasang di kepala, jadilah gadis kerudung biru.. |
|  | Ini dia tampang Cinta dari deket dalam berbagai ekspresi..diambil tanggal 01 Januari 2007, waktu umurnya 13 bulan 13 hari. Hmm..setelah diliat-liat, kayanya makin mirip ayahnya deh. |
|